//
you're reading...
Tips n Tricks

FENOMENA BARONANG

FENOMENA BARONANG
Pembaca budiman, jika berbicara mengenai Fenomena Baronang tentunya berkaitan masalah waktu dan kondisi  untuk mancing baronang. Tentu para shifu atau garonger senior sudah sangat paham mengenai hal ini, hanya mungkin saja tidak di tumpahkan dalam bentuk tulisan, umumnya mereka mengajak beberapa pemancing yang boleh dikatakan minim pengalaman atau berkelompok antara garonger senior itu sendiri dengan membentuk satu group exclusive.
Memang tidak dapat dipungkiri banyak pemancing baronang senior yang enggan membagi ilmu kepada orang lain khususnya untuk para pemula, apalagi membagi spot/lokasi yang dinilainya sangat potensial.
Namun ada pula yang bersifat sebaliknya dan patut kita appresiasi.

Waktu dan kondisi yang tepat tentunya sangat berkaitan dengan fenomena alam yang terjadi setiap saat dalam arti pada kondisi kondisi tertentu kita mengalami strike yang bertubi tubi sedangkan dalam kondisi lain malah sama sekali tidak ada sambutan umpan dimakan ikan sasaran.
Nah, sikap keheranan dan pertanyaan pertanyaan “kok sekarang tidak ada senggolan umpan ya? padahal minggu lalu disini saya strike terus?” sudah sering penulis dengar.
Menjawab pertanyaan itu, penulis mencoba menganalisa satu persatu penyebab sehingga hal demikian dapat terjadi.

Kondisi Air :
Dalam dunia perpancingan khususnya baronang sangat sering dijumpai kondisi air laut berwarna bening, air keruh, air hijau gelap atau biru, air flat (tenang), air ber arus atau sedikit berombak (ngopyak) dan juga berombak besar.
Air bening biasanya mengindikasikan enggannya ikan menyantap makanan/umpan apalagi jika suhu air jauh dibawah suhu kamar.
Kondisi ini kerap terjadi jika hujan besar semalaman dimana air tawar yang menimpa air laut bergerak ke dasar (berat jenis air tawar lebih besar dari air laut). Pergerakan dari permukaan ke dasar laut ini juga membawa beberapa partikel air laut berupa nutrisi laut, garam garam dan zat zat lainnya ke dasar sehingga air diatas dasar praktis berwarna bening. Sedangkan suhu dingin juga dipengaruhi signifikan oleh suhu air hujan yang menimpanya.
Hal inilah pula yang mungkin menyebabkan metabolisme tubuh ikan menjadi berbeda dibandingkan saat kondisi normal, sebagai gambaran mungkin jika kita dalam kondisi kurang enak badan tentu nafsu makan berkurang pula.
Jika menjumpai kondisi demikian maka tidak ada pilihan selain menunggu kondisi air menjadi tampak agak gelap kehijau hijauan hingga dasar laut tidak tampak lagi.

Arus air :
Arus yang kuat cukup merepotkan pemancing apalagi jika disertai ombak yang cukup besar dan angin yang cukup kencang.
Arus yang cukup kuat menyebabkan ikan ikan berlindung dibalik tiang-tiang dermaga atau dibalik bebatuan untuk menghindari terseret arus hingga terbawa ketempat jauh. Dalam kondisi demikian set perangkat baronang yang dilengkapi dengan pelampung gantung tentu sangat kesulitan untuk menempatkan umpan pas di spot lokasi ikan berlindung, bahkan resiko nyangkut karang menjadi sangat besar. Perangkat yang menggunakan pelampung celep juga mengalami nasib yang sama yaitu sangat sulit mendeteksi getar pelampung lebih parahnya saat ombak meninggi maka pelampung juga mengangkat umpan sehingga dengan cepat berpindah lokasi mengikuti arus laut.
Jika mengalami hal seperti ini dianjurkan menggunakan pelampung gantung model UFO yang lebih aerodinamik dengan ukuran agak kecil, gunakan garong kecil yang diliput umpan nasi bejeg hingga membentuk bulatan sebesar kelereng.
jika diperkirakan spot di posisi tertentu maka ambillah jarak cemplung agak jauh didepan (melawan arus). Cemplungan bulatan umpan tentu akan menggelinding melintasi spot yang diperkirakan. Berdasarkan pengalaman yang penulis lakukan posisi senar yang tertiup angin yang membentuk busur akan bergerak stabil mengikuti arus dan tiupan angin (untuk pelampung gantung ombak tidak terlalu berpengaruh). Biasanya saat melewati spot perkiraan akan terasa sedikit ganjalan atau kedutan, nah itu mengindikasikan ada reaksi dari predator dibawah sana, tibalah untuk menggentak joran dan bergembiralah karena anda telah menemukan trik menaklukkan kondisi laut yang sebahagian pemancing kondisi laut seperti ini sangat tidak disukai.
Diajurkan jangan menggunakan umpan lumut karena oleh ombak dan arus pergerakan air lumut akan melayang dan terseret.

Air keruh dan agak putih atau kecoklatan :
Sudah jamak diketahui bahwa kondisi keruh seperti ini disebabkan karena teraduknya dasar laut oleh turbulensi arus atau ombak ataupun lantaran ada aliran sungai keruh yang jauh mencapai pesisir pesisir pantai alau karang pinggir laut, lebih parahhnya lagi disebabkan oleh buangan limbah polusi.
Kondisi seperti ini menyebabkan ikan menjauh atau pergi dari lokasi itu, tetapi biasanya kondisi ini tidak berlangsung lama terutama jika laut mulai mengalami pasang naik, ya karena permukaan laut lebih tinggi dari permukaan hulu sungai. Tunggulah beberapa saat hingga di lokasi dimana kita berdiri air berubah menjadi agak bersih dan ke hijauan, maka itulah saat terbaik untuk merasakan pagutan predator sasaran kita (baronang).
(Lokasi dengan kondisi seperti ini ada di anyer, yaitu di pondok lestari, kalimaya dan sekitarnya)

Hujan :
Masalah hujan juga menjadi kendala tersendiri, yang sangat mengganggu adalah tetesan hujan yang mengenai joran akan terasa bergetar terus menerus di tangan, ini juga sangat menyulitkan jika terjadi getaran oleh pegutan ikan, kecuali jika pagutan itu sangat kasar, tetapi ini jarang terjadi.
Umumnya jika terjadi hujan dibarengi pula angin yang bertiup kencang, ombak yang besar.
Disarankan dalam kondisi ini untuk menunda hingga kondisi membaik.

Nah jika telah memahami beberapa kondisi tersebut lalu mungkin akan timbul lagi pertanyaan “kapan waktu yang tepat mancing baronang agar tidak sia sia?”
Yang terbaik adalah dilakukan saat air mulai bergerak naik (pasang) atau saat air akan bergerak turun (surut) dan terbaik pagi hari dan menjelang senja/sore.
Saat air bergerak naik, ikan baronang bergerak ketepian untuk mencari makan yang tidak mungkin dapat dicapai saat air surut.
Demikian pula saat air mulai bergerak surut maka kesempatan itu digunakan oleh baronang untuk makan.
Bagaimana dengan mancing di malam hari? untuk hal ini tetap memungkinkan bahkan kejutan baronang jumbo (diatas 7 jari) kerap dijumpai, piranti yang digunakan juga tidak jauh berbeda dengan mancing pagi/siang/sore hari, umpan yang digunakan juga sama.
Anggapan bahwa baronang tidak dapat melihat kala malam hari rupanya perlu dihilangkan.
Baronang tompel dan batik termasuk hewan yang aktif malam hari, indra penglihatan kedua jenis ikan ini tetap awas dan dapat melihat umpan baik lumut maupun nasi lumat.

Rupanya ini dulu yang dapat penulis sajikan, untuk selanjutnya tentu membuka kesempatan untuk berdiskusi.

Salam gentak..

Freddy Hariwinoto – Si Pemancing Kelana
085939846534
bb 527909DB

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: