//
you're reading...
Tips n Tricks

PEMILIHAN UMPAN BARONANG/IKAN JALU/IKAN KEA KEA YANG TEPAT SASARAN

Pembaca budiman,
Umpan tidak mungkin bisa dianggap sepele karena amunisi yang satu ini sangat mutlak diperlukan, kecuali dalam kegiatan kegiatan mancing tertentu seperti jigging, casting, popping dan lain lain.
Dalam artikel ini hanya dibahas mengenai umpan yang kerap digunakan untuk mancing ikan baronang/jalu/kea kea.

Dalam benak para garonger tentu langsung terbayang “lumut” ..
Sejenis tumbuhan pinggir laut yang dapat tumbuh di bebatuan, karang bahkan pasir dan beberapa juga tumbuh di bambu atau di sekeliling bawah perahu nelayan. Umpan ini memang sangat istimewa dan relatif sangat ampuh untuk menaklukkan ikan predator herbivora itu.
Tetapi saat saat tertentu jangan heran jika umpan ini menjadi mandul.
Ya.. kemandulan lumut ini dapat disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor alam dan faktor manusia (pemancing).
Tidak ampuhnya umpan lumut alias mandul yang disebabkan oleh faktor alam tidak hanya berlaku untuk lumut saja tetapi malah hampir semua jenis umpan menjadi mandul.
Dalam kondisi ini tinggal dua alternatif yang biasa dilakukan oleh garonger yaitu mengganti umpan dengan “lumpur” atau mengganti set pancing garong dengan pancing engkel kecil yang di pasang umpan udang rebon.

Nah, apa fator kedua yang menyebabkan lumut dan umpan lain menjadi mandul?
Jika di amati secara saksama kebiasaan makan jenis ikan ini hampir sama saja yaitu jika menemukan jenis makanan yang lebih “wah” maka makanan yang pertama nyaris ditinggalkan, dan inilah yang sering tidak disadari oleh garonger (terutama garonger “maaf” kolot yang tetap saja nekad memakai umpan pertama).
Bukan berarti umpan tidak disentuh tetapi frekuensi senggolan umpan oleh predator sangat dan sangat lama, sementara garonger yang bersebelahan terus menerus merasakan getaran pelampung.
Nah umpan apakah yang penulis maksudkan dengan “wah” itu?
Lumpur..!!..ya lumpur yang didalamnya mengandung cacing halus dan renik renik hidup ini ternyata mampu menarik perhatian sang predator jenis herbivora ini.
Perlu diketahui walaupun ikan ini jenis herbivora namun sebagai “camilan” mereka juga doyan hewan hewan halus seperti cacing halus dan hewan hewan renik lainnya.
Beberapa pemancing bahkan menjadikan “lumpur” ini wajib dibawa dalam kegiatan mancing. Yang lebih ekstrim lumpur ini dipakai untuk nge “bom” lokasi tertentu yang tujuannya agar ikan sasaran berkumpul di lokasi tersebut. (bom disini maksudnya adalah segumpal lumpur dilemparkan di lokasi terterntu, dan sering dilakukan dengan frekuensi yang lebih sering)
Saat ikan berkumpul dan bom tadi telah habis di serbu ikan target, maka mau tidak mau lumut pun menjadi sasaran berikutnya, nah trik ini yang kerap diaplikasikan oleh garonger.
Tidak hanya itu, bahkan beberapa garonger juga ada yang memeras lumput tersebut hingga menjadi padat dan di “liput” menutupi seluruh pancing garong kecil (hingga sebesar kelereng), inipun tidak kalah “sakti”nya.
Praktek nge bom seperti ini tidak hanya saat mancing di dermaga saja, tetapi dapat diterapkan saat mancing di pinggir bebatuan bahkan saat mancing dengan cara berendam (ngoyor).
Perlu di ingat juga bahwa jenis lumpur ini tidak bisa digeneralisir berlaku di semua lokasi spot baronang/jalu/kea kea…dibeberapa tempat malah jenis lumpur ini sama sekali tidak mendapat sambutan jika di gunakan sebagai umpan.
Jika menemui kondisi demkian, jangan memaksakan diri… pakailah hanya untuk nge bom saja, selanjutnya digunakan umpan yang umum berlaku di wilayah tersebut.
Bagaimana dengan udang rebon?..
Umpan yang satu ini cukup jitu juga dalam menaklukkan ikan sasaran namun kerap sering mendapatkan gangguan ikan ika target seperti ikan betok laut (serkop), sriding, selar dan lain lain.
Biasanya untuk mengatasi hal ini pemancing memberikan pemberat pada rangkaian rebon tersebut agar cepat mencapai dasar dengan kedalaman tertentu yang di anggap sebagai habitat baronang/jalu/kea kea.
Dalam kondisi tertentu saat bom lumpur selesai dan habis.. maka lumut pun menjadi lumpuh, tetapi rebon menjadi sasaran berikutnya bukan lumut.

Yang perlu menjadi pengamatan kita yaitu saat faktor alam memegang peran dimana kondisi air bening, temperatur dingin (dibawah suhu kamar) serta ditambah banyak hewan hewan lain seperti ubur-ubur, jenis jenis ikan teri berombongan…wah ..ini pertanda bahwa ikan target sedang “malas” makan.
Biasanya kondisi ini berlangsung cukup lama bahkan bisa seharian.
Jika menemukan kondisi ini dan ingin tetap mancing maka disarankan terus menerus mengganti jenis jenis umpan, jangan memaksakan memakai satu jenis umpan karena jika dipaksakan maka dapat dipastikan tidak memperoleh apa apa.
Tetapi mungkin lebih bijak jika kita beristirahat sejenak sambil menunggu kondisi laut membaik untuk kemudian kita dapat melampiaskan kegembiraan ber strike ria.

Lumut? Lumpur? Nasi Lumat? Rebon? Potongan Usus ikan atau Umpan Ramuan?
Membahas masalah pemilihan umpan ini tergantung dari lokasi yang mempunyai kebiasaan ikan untuk makan jenis umpan tertentu.
Disuatu wilayah yang banyak terdapat ikan jalu..seperti di pelabuhan cigading, merak, kepindis, sekong dan sekitarnya justru lebih galak memakan umpan berupa nasi lumat atau ramuan pelet. Diwilayah ini lebih baik jangan memaksakan diri menggunakan lumut karena hanya akan memberikan kekecewaan.
Untuk umpan ramuan tentunya juga masing masing wilayah mempunyai ciri khas tersendiri, seperti di wilayah banuangeun ramuan disana justru di dominasi terasi dari pasar setempat (bukan terasi pabrik dari daerah lain).
Jalu terkenal dengan tarikan yang luar biasa mengingat tubuhnya yang pipih tentunya memberikan efek tarikan yang lebih dahsyat sehingga tidak diajurkan menggunakan rebon dan kail halus untuk itu lebih efektif udang rebon digunakan untuk ngebom saja.
Penulis mendapat khabar dari pelanggan di Papua bahwa disana hanya dua jenis umpan yang di minati ikan baronang/jalu yaitu lumut dan potongan usus cakalang dengan ukuran ikan 8 jari up..
Ternyata memang demikian umumny



a baronang yang hidup didekat pelelangan dimana para penjual ikan sering membuang perut ikan hasil tangkapan maka kebiasaan baronang juga memakan sisa sisa yang dbuang tadi.
Demikian pula jika ada restaurant dipinggir laut yang sering membuang sisa sisa nasi tentunya itu juga menjadi makanan baronang sehingga umpan nasi lumat menjadi tidak asing lagi baginya,
Nah..bagaimana jika dipinggir laut banyak terdapat jamban yang berjejer?
Untuk ini tentu penulis tidak perlu berkomentar…
Akhirnya sebelum tempur ke spot sasaran amati terlebih dahulu kondisi kondisi diatas (letak spot apakah dekat pelelangan, resto atau hanya dibebatuan/karang).
Jika sudah mengerti maka umpan yang tepat akan memberi hasil yang mengagumkan.

Demikian sekilas ulasan semoga menjadi bahan untuk menambah wawasan dalam perburuan ikan jenis baronang/jalu/kea kea yang consumable.

Salam gentak

Freddy Hariwinoto – Si Pemancing kelana
085939846534

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: