//
you're reading...
Kisah

Kisah Perjalanan Mancing ke Pulau Panjang Cilegon Banten

Perjalanan mancing memang tak pernah lekang oleh zaman, seperti halnya orang yang telah mencandu terhadap sesuatu misalnya rokok, minuman tertentu dan lain lain. Masih lama acara perjalanan mancing saja sudah demikian sibuknya beberapa rekan mempersiapkan segala sesuatunya.

Seminggu sebelum jatuh hari “H” yaitu Jumat siang tanggal 3 Agustus 2012, rekan-rekan sudah saling kontak dan menanyakan perlengkapan apa saja yang harus dibawa.

Ya, memang acara mancing kali ini mengambil target sasaran yang cukup banyak antara lain :

    • Mancing Cumi
    • Mancing Cucut/Cendro
    • Mancing ikan Kembung/Selar
    • Mancing dasaran (kakap merah/kerapu)
    • Mancing Baronang
    • Mancing Kotrek tanpa umpan
    • Mancing ikan umpan

Nah dari banyaknya sasaran ini tentunya akan timbul juga beberapa pertanyaan yang berkaitan.

Minggu pagi tanggal 29 July 2012 salah satu calon peserta dari bilangan Kebon Jeruk mengabarkan bahwa Udang Suduk (umpan) untuk hari jumat telah siap. Perlu diketahui bahwa udang suduk adalah salah satu jenis udang yang paling digemari ikan-ikan predator, hidupnya didasar-dasar laut atau empang dan tidak melayang di air, matanya cukup tajam dan berbinar, warna tubuhnya agak kehijau2an.

Saya sendiri telah mempersiapkan garong khusus untuk menyentak teri bakal umpan serta merancang jaring kecil yang juga untuk menangkap ikan umpan. Bedanya menangkap teri dengan garong dan jaring kecil yaitu terletak pada daya tahan hidup umpan tersebut. Celakanya, umpan yang mati walaupun kondisinya masih segar itu sama sekali tidak di minati oleh ikan predator beda bila ikan yang diperoleh melalui jaring sentak yang kecil, kondisi ikan umpan tetap segar dan begitu umpan dilempar ke sasaran langsung “strike”..!

Dibutuhkan juga keahlian melempar tepat sasaran, sama halnya memukul bola golf yang terkonsentrasi ke satu sasaran. Oleh karena itu di acara mancing ini saya telah mengundang dua orang golfer kaliber ala Forsino yaitu Bung Benny Marbun serta bung Mahmudi Widodo yang konon keduanya memiliki Handycap kisaran 10~12.

Tentunya bagi keduanya untuk melempar sasaran adalah bukan masalah asal mereka telah mengetahui bagaimana trik melepas senar saat umpan dilemparkan. Disamping itu pula rekan setia yang selalu bersama sama saat mancing yaitu bung Arihadi membuat acara ini semakin seru adanya.

Bung Ari yang satu ini sdh menyandang predikat “beruntung” lantaran sering sacara tak sengaja strike ikan tanpa disadari, dan sangat jarang memperoleh “NuL Strike” alias boncos. Terakhir beliau strike 4 kali Cendro ukuran sedang, dan dua lainnya strike dengan ukuran yang cukup besar tetapi sayang terlepas saat ikan akan diangkat ke atas. Ya secara tak sengaja saja beliau memakai mata pancing bukan type agak bengkok ke kiri tetapi itu membuatnya semakin penasaran. Disamping itu pula kegemarannya nggarong ikan umpan malah beruntung yang terkait ikan belanak yang cukup besar sebanyak dua kali… Memang dilaut penuh dengan kejutan, maka tidak berlebihan dengan predikat “beruntung”.

Nah acara kali ini juga diperkuat dgn hadirnya rekannya Bung Djau dan bung Edward Tandelilin yaitu bung Judyono dan Bung Eko Handoyo yang terlihat semakin penasaran akibat mancing pertama yang masih kurang beruntung dan masih menginginkan strike yang lebih sering dan besar-besar. Apalagi acara kali ini melewati malam hingga siang keesokan harinya yang tentunya memberi warna serta sensasi tersendiri.

Dengan Joran serta set peralatan pancing yang telah dibeli dari penulis, bung Judyono sangat antusias utk segera memulai mancing dasaran serta mancing cucut, bahkan telah merencanakan perjalanan mancing berikutnya adalah ke Pulau Sanghyang yang mudah ditempuh dari Anyer. Inilah jiwa-jiwa militant yang militansinya tak diragukan lagi.

Percaya atau tidak, “Believe it or Not” bahwa orang yang sering meluangkan waktu untuk mancing akan tampak “Awet Muda”. Oleh karena itu maka marilah kita “berbondong-bondong” untuk turut serta mancing di laut. Suasana laut memang sangat berbeda dengan di darat, laut dapat memberi inspirasi yang jauh lebih segar dan membangun.

Ow… Sedikit cerita yang tertinggal mengenai kegemaran bermain Golf, ternyata rekan kita bung Judyono juga seorang Golfer sejati dengan handycap di kisaran yang sama dengan Bung Benny dan Bung Widodo, beliau juga seorang musisi handal mirip dengan penulis yang juga seorang Golfer, pemusik (teringat dulu di Realino saat tampil nge Band dg BMS, Steeve, Iwan Lukito dan Shane/drummer).

Nah, jika para Golfer/musisi bertemu di Laga Mancing tentunya bisa dibayangkan serunya saling lempar jauh mendekati ikan sasaran sambil berdendang, tetapi jangan khawatir ikan2 sasaran banyak berkeliaran disana, atau mungkin taruhan melempar terdekat ke satu ikan sasaran.

Penulis pun tak ketinggalan untuk terus memikirkan bagaimana membuat tangkapan ikan umpan yang paling efektif agar lemparan para golfer dengan umpan hidup langsung “Strike”.

Sebenarnya cukup keder juga menghadapi para golfer seperti mereka yang telah mengantongi reputasi menakjubkan, tetapi… Ah… Mereka toh belum faham pancing memancing (sembari menenangkan diri dalam hati). Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa penulis juga dulu seorang Golfer, hanya  berhenti beberapa lama jadi sesungguhnya tak ada yang perlu di khawatirkan….

Pergerakan waktu menuju “hari H” semakin mendekat dan salah seorang calon peserta mengabarkan akan menyediakan “ikan gape” atau sejenis ikan2 kecil yg bentuknya memanjang yang sering bergeromboL dipinggir-pinggir laut.

Ikan ini sangat disukai predator cucut, nah berarti masalah umpan hampir dikatakan tdk ada masalah. Artinya pertarungan dimedan laga melawan ikan-ikan predator telah 99% siap.

Sebenarnya saya masih berharap ada beberapa rekan lagi yang mendaftar untuk turut serta menikmati suasana baru di pulau panjang dengan lautnya yang indah, apalagi dengan jadwal kunjungan yang tidak terlalu merepotkan dan tidak memerlukan persiapan yang njlimet. (Jumat 3/8-2012 sore hingga sabtu siang 4/8-2012).

Bahkan tidak perlu repot mempersiapkan peralatan pancing, karena bisa bergantian dengan penulis sembari memberikan training gratis bagaimana cara memasang umpan, melempar umpan dan strike dengan benar dan ini tentunya akan menjadikan pengalaman yang tak terlupakan sepanjang masa.

Saat dua hari lagi keberangkatan ke pulau tujuan yaitu “pulau panjang” (yang terkenal banyak species ikan berkeliaran) tiba-tiba pak Upi (penduduk pulau panjang) mengabarkan akan berkunjung ke Jakarta pada hari Kamis tgl 2/8-2012, kebetulan sekali malah bisa menyusun acara sahur di pulau nantinya dan tentunya harus memberikan bekal ke beliau untuk acara tersebut.

Satu hal yang membuat penulis semakin semangat yaitu adanya seorang warga Forsino yang turut berpartisipasi memeriahkan acara REFIC-plus walaupun dirinya tidak turut serta mancing – suatu apresiasi yang luar biasa untuk anda bung Willy Umboh.

Sejak bersama di asrama Realino dulu Bung willy terkenal supel dalam pergaulan dan tidak banyak bicara (omdo-meminjam istilah dari BMS). Inilah wujud nyata setia kawan dan membawa “Sapientia et Virtus” yang bukan hanya sekedar SLOGAN belaka.

Peserta mancing kali ini hampir selusin jumlahnya dan ini pula yang membuat penulis (penyelenggara) semakin semangat, mungkin tidak berlebihan jika acara ini penulis namakan “Mancing REFIC-Plus”. Daftar sementara peserta Mancing Akbar :

  1. Kleyeng – Pemancing Kelana
  2. Arihadi – Pemancing Tremorz
  3. Mahmudi Widodo
  4. Benny Marbun
  5. NC Judyono (rekan bung Jau & Tandelilin)
  6. Mr. Eko Handoyo (kawan bung Judyono)
  7. Bung Dede Suhendar (kawan Arihadi)
  8. Bamsle
  9. Qory (kawan Bamsle)
  10. Didik (kawan Bamsle)
  11. Willy Umboh (partisipan aktif/tidak turut)

Ada beberapa peserta yang mengundurkan diri  karena suatu alasan tertentu yaitu bung Benny Marbun, bung Dede suhendar dan bung Didik, bung Willy dari awal memang tidak ikut, sehingga jumlah peserta tinggal delapan personil. Namun ini tidak mengecilkan semangat kami untuk segera mancing. Sore itu tepat jam 17.15 kapal bergerak menuju pulau impian untuk turun laga.

Style mancing baronang tanpa umpan

Beberapa menit sebelum adzan magrib tanda berbuka puasa, perahu kami merapat didermaga pulau panjang yang cukup luas. Lega rasanya tiba dengan selamat di pulau itu. Beberapa rekan dengan tak sabar segera merangkai pancing untuk segera berlaga, saya sendiri memilih utnuk berbuka, sholat maghrib dan merangkai set pancing cumi.

Kondisi laut saat itu kurang menguntungkan, riak ombak dan arus tidak sesuai harapan, sehingga cumi hampir tidak ada yang tampak, begitu pula ikan todak (cucut) yang ternyata dipulau ini menurut penduduk tidak pernah muncul dimalam hari, berbeda dengan di Dam-Merak, justru kemunculannya di malam hari.
Beberapa jam berlalu belum satupun yang strike, memang beberapa rekan ada yang mancing dasaran, ada yang koncer, dan saya sendiri melihat kesana kemari mencari cumi, juga belum tampak.

Penduduk setempat memang gemar mancing kotrek dengan mata pancing yang sangat halus yang diberi manik-manik bulu atau benang halus, justru mereka strike ikan selar dan ikan beseng-beseng terus menerus.
Sempat pula tersirat rasa iri terhadap perolehan mereka, sementara kami berdelapan belum juga memperoleh apapun.

Selang beberapa lama beberapa dari kami mulai mengikuti mancing kotrek, dan memang strike juga walaupun hanya beberapa ekor.

Malam semakin larut, perolehan masih ada di wilayah “kecut” beberapa rekan mulai merebahkan diri, bahkan ada yang tiba-tiba membuka perlengkapannya dan ternyata tenda pramuka…. Wah… Acara macing kali ini berubah menjadi camping.

Penulis sedari tadi tetap mencari spot cumi, beberapa ekor tampak dipermukaan dan strike..!! walaupun kecil, disusul bung Arihadi yang memperoleh lumayan besar.

Sayup-sayup mulai terdengar suara “mendengkur”, yang semakin lama semakin keras membawa suasana “dunia lain” yang cukup serem…ow, rupanya beberapa rekan merasa kecapaian. Ah biarkan saja… Kondisi tanpa strike seperti ini terus berlangsung hingga acara sahur tiba.

Acara sahur kali ini terasa sangat nikmat, betapa tidak, bung Upi (penduduk pulau panjang) menyajikan baronang bakar lengkap dengan sambal dan sayur asem… Ow, ini santapan sangat mewah… Maka tak ayal…semua peserta mancing tak terkecuali makan dengan lahapnya.

Setelah acara santapan selesai mereka melanjutkan tidur hingga fajar menyingsing, sementara saya sendiri sama sekali tak bisa memejamkan mata sekejap pun, dan tetap mencari spot cumi. Kala fajar sudah mulai tampak, segera kami melempar pancing ikan todak (cucut).. Tetapi bernasib sama seperti semalam… (Wah ini bakalan boncos acara kali ini).

Bung Eko Handoyo dan Bung Judyono (rekan bung Jau, dan Tendelilin) serta Bung Bamsle dan Bung Qory berpamitan lebih dahulu tepat pukul 09.00 pagi hari sabtu (tgl 4/8), wah sangat disayangkan karena belum juga merasakan strike cucut. Sementara penulis tetap  mancing tanpa menyerah.

Tepat jam 10.00 tanda2 strike sudah mulai tampak, manakala pancing cucut yang penulis lemparkan mendapat sambutan dengan tarikan yang sangat kuat…walaupun ikan terlepas tetapi harapan lebih lanjut mulai bersemi.

Selang beberapa saat, rekan-rekan mulai strike cucut walaupun hanya satu dua ekor, demikian pula penulis. Untuk mengatasi kejenuhan, penulis mulai mengalihkan perhatian untuk “mancing sentak” tanpa umpan, ya ini saya lakukan lantaran banyak terlihat gerombolan ikan ekor kuning, selar, barracuda, tembang.

Tak dinyana setiap sentakan selalu strike ikan ukuran tiga jari, baik tembang, ekor kuning, barracuda dan lain lain… Wah pupus sudah kekecewaan semalam… Melihat strike yang terus menerus memancing minat bung Mahmudi segera merubah haluan, dan benar saja, kami terus-terusan strike hingga cool box terisi sangat banyak (sekitar 50 ekor).. Inilah gaya mancing baronang dengan “gentak” dan strike..!! Walaupun tanpa umpan..

Seharusnya mereka yang kembali lebih dahulu bisa merasakan sensasi tarikan ikan cucut serta gentakan “gratis” dengan strike ikan selar, ekor kuning, barracuda dll. Seharusnya pula, hal ini sudah dilakukan sejak semalam, tetapi mancing kali ini cukup membawa kepuasan tersendiri.

Akibat dari strike tiada henti seperti ini, menjadikan penulis segera merancang pancing garong khusus yang berlaku umum dan bisa digunakan di berbagai dermaga pulau yang rata-rata dihuni gerombolan ikan. Tentunya ikan yang baru dipancing sangat nikmat disantap langsung setelah di olah oleh juru masak handal..
Pukul 12.00 terasa sangat menyengat, maka kami sudahi acara mancing kali ini dengan sisa peserta semuanya strike..!!

Demikian seulas kisah mancing semoga jiwa bahari rekan2 sekalian tumbuh bersemi.

Salam
Kleyeng-Pemancing Kelana

Discussion

2 thoughts on “Kisah Perjalanan Mancing ke Pulau Panjang Cilegon Banten

  1. alo sy berniat memancing ke pulau panjang.bs tolong dikasi tau bagaimana cara ksana atau bs diaturkan trip ksana..tolong kabari sy di 08129299559.stevens

    Posted by stevens | March 21, 2013, 4:04 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: