//
you're reading...
Optimisme

Mengejar Optimisme

Tidaklah berlebihan jika sering kita mendengar ucapan bahwa mancing bisa membuat kita lupa diri, tidak salah ucapan itu namun positif negatifnya  tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Kegiatan mancing bisa menjadi kegiatan positif yang membangun, inilah yang menjadi dasar penulis untuk mengejar impian.

Betapa tidak, laut kita demikian luas dengan aneka ragam satwa laut yang sangat kaya protein yang menurut data kelautan bahwa pemanfaatan sumberdaya laut tidak lebih dari 3% nya saja, sangat ironis bukan?

Padahal menimba ikan dari lautan boleh dianalogikan dengan menimba minyak, atau emas hitam (batu-bara/non-renewable) dan ikan adalah sumber daya hayati yang terus berlimpah sepanjang masa asal diperhatikan ekosistem kelestariannya. Maka, tidak mustahil sumber daya ini akan menjadi primadona bagi kehidupan manusia. Mensejahterakan tidak hanya masyarakat nelayan, tetapi masyarakat pada umumnya. Sayang banyak yang belum menyadari betapa berlimpahnya sumber hayati yang satu ini.

Berangkat dari pandangan-pandangan penulis di atas serta melihat kenyataan lapangan, maka penulis bertekad untuk mengubah mind-set masyarakat terhadap dunia kelautan.

Berbuat itu jauh lebih berarti daripada sekedar berteori. Teori-teori sudah sangat banyak yang dilontarkan oleh para pakar kelautan maupun dari group-griup komunitas  tertentu yang notabene tidak semua mengerti dunia kelautan.

Menilik kehidupan nelayan di suatu pulau, penulis cukup tertegun dengan perjuangan keras mereka utk menangkap ikan. Hasil yang diperoleh tidak seberapa dan hanya cukup untuk makan sehari-hari. Sarana yang digunakan juga cukup sederhana, sehingga hasilnya pun boleh dikatakan tidak memadai. Belum lagi menghadapi musim paceklik laut yang relatif panjang, artinya mau tidak mau pada saat-saat itu mereka harus “berhutang” ke pengijon.

Nah, ini masalah dasar yang menjadikan kehidupan nelayan terus menerus dalam kemiskinan, belum lagi kebiasaan mabuk-mabukan yang mengundang ketidak tentraman masyarakatnya. Ini semua masalah kompleks yang harus diurai sedikit demi sedikit.

Bagaimana untuk masuk kedalam siklus kehidupan mereka? Dalam arti memberikan nilai tambah yang diharapkan sedikit demi sedikit dapat merubah kesejahteraan mereka?

REFIC (Realino Fishing Club) mencoba berpartisipasi dengan cara pelestarian ekosistem kelautan, termasuk di dalamnya kelestarian hutan mangroove, penanaman beberapa rumpon sebagai pilot project serta pembangunan bagan yang memenuhi standard tangkapan dan tentunya memiliki sebuah “KAPAL” yang boleh jadi disusul bertambah dengan kapal-kapal lainnya.

Orientasi tidak hanya melulu itu tetapi juga merangkum sektor wisata (pengenalan laut) serta wisata krakatau ataupun ujung kulon yg kesohor di seluruh dunia itu. Sekaligus juga merangkum sektor bisnis yang saling menguntungkan untuk semua pihak, sehingga beberapa investor yang telah sepakat untuk berpartisipasi di sektor inipun dapat menikmati hasilnya.

Kiranya tidaklah berlebihan untuk meraih cita-cita ini apalagi sesuai dengan hobby sehingga dapat full-concentration menanganinya.

Marilah saudaraku sekalian kita tunjang rencana mulia ini, rencana yang baik bagi semua pihak, membangun bangsa, membangun masyarakat, memelihara ekosistem alam yang diamanahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa utk selalu kita jaga.

Semoga cita-cita ini segera terwujud dan terimakasih atas partisipasi beberapa rekan yang telah berkomitmen untuk ini.

Selamat berkarya “berbuatlah sesuatu yang nyata”.

Salam SeV
Freddy-Hariwinoto
Ketua REFIC (Club Mancing Forsino)

Note :

Rumpon

adalah sekumpulan benda-benda yang ditumpuk menjadi satu di kedalaman lautan (biasanya terdiri dari besi-besi bekas, kotak-kotak  semen dan dedaunan pohon kelapa. Penanaman rumpon ideal di kedalaman 20 meter hingga 30 meter dengan kondisi arus serta ombak yang tidak terlalu besar.
Adanya rumpon ini akan menarik ikan-ikan kecil untuk berlindung, usia rumpon yang semakin lama justru semakin baik lantaran banyak ditumbuhi teritip yang tentunya banyak hewan-hewan renik yang menjadi santapan ikan-ikan predator.
Ikan-ikan predator ini tidak pernah menjauh dari rumpon karena selalu mengejar ikan yang lebih kecil. Jenis ikan yang sering berkeliaran d isekitar rumpon adalah jenis ekor kuning, tanda-tanda, kembung, kuwe, lencam, tenggiri, kakap merah, kerapu dll.

Bagan

adalah bangunan bambu yang tiang-tiang utamanya ditancapkan di dasar laut, kemudian di atasnya dibangun gubuk serta di bawahnya dipasang jaring. Bagan hanya dioperasikan malam hari, bagan sangat efektif digunakan untuk menjaring cumi-cumi atau ikan-ikan kecil (teri).
Pada saat gelap bulan bagan sangat efektif memikat cumi, yaitu dengan cara menyalakan petromax yang diikat kemudian digantung di atas air dengan jarak tertentu tepat di bawah gubuk di tengah-tengah bagan. Saat cumi berkumpul, saatnya mengangkat jaring yang sebelumnya ditenggelamkan terlebih dahulu. Ikan-ikan kecil atau cumi segar ini sangat ampuh bila digunakan untuk memancing.
Ini termasuk dalam paket wisata mancing nantinya.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: