//
you're reading...
Kisah

Mancing Baronang di Anyer – Pelabuhan Ratu

Anyer tidak hanya terkenal sebagai tempat wisata pantai yg cukup indah tetapi juga menyimpan potensi beberapa jenis ikan antara lain ikan baronang (tompel, susu/lingkis, batik) dll.
Seperti biasa jika telah lama tdk merasakan strike baronang, tangan terasa pegal dan “tremor”, betapa tidak, hentakan2 baronang yg terkena pancing garong super buatan sendiri itu mampu membuat fikiran terus membayangkan, ya tekukan joran yg melengkung tajam serta desingan senar yg menahan kekuatan tenaga ikan… Ahhhh semua itu menjadikan “sakaw” jika tdk mengulangi lagi dan lagi…
Pagi itu, seperti saat2 lalu salah satu rekan rfc (mr.ARH) sdh mengirim pesan melalui bbm, “besok jumat subuh 22/3/2012 mancing ya”, wah .. Ini tantangan yg hrs ditanggapi, hrs disesuaikan dulu dgn schedule kegiatan sy di thamcit.
Sy mmng berencana utk turun laga walaupun tanpa kawan, tetapi rasanya kurang sreg jika tanpa saksi saat “strike..!!”
Segala peralatan pancing sdh dipersiapkan dg saksama, bahkan sudah diikatkan diujung joran, lengkap dgn pelampung dan ukuran panjang senar yg sdh siap sedemikian rupa.
Mata pancing-mata pancing andalan pun sdh dipersiapkan, artinya sudah “siap tempur” menahan hentakan dan tarikan baronang yg terkenal bandel dan tanpa menyerah untuk berusaha melepaskan diri dari jeratan pancing garong.
Seperti masa masa lalu, penantian saat mancing tiba, terasa sangat panjang sehari terasa sangat lama… begitulah nasib jika terjangkit “sakaw”.
Mancing ikan baronang relatif mampu mengalahkan mancing ikan2 dasaran lainnya, mancing ikan jenis ini mempunyai daya tarik tersendiri bagi pemancing yg sdh terbiasa memancing ikan2 dasaran, betapa tdk karena disamping sangat praktis dan murah meriah, sensasinya tdk kalah dgn mancing ikan2 lain. Terbukti dgn banyaknya pemancing2 jenis lain yg beralih ke mancing jenis ikan ini, seperti menularkan virus, saat ini hampir diberbagai daerah sdh banyak terdapat pemancing baronang, entah siapa yg memperkenalkan ke mereka…

BataL :
Mancing tgL 22 Maret 2012 dibatalkan lagi karena masalah teknis, tetapi niat tak pernah surut sedikitpun, walaupun bung ARH selalu mengabarkan bahwa dipasar MANDIRI-KG baronang tdk ada, ya sedikit banyak cukup mempengaruhi juga kabar itu, tetapi sy msh berkeyakinan kuat bahwa diwilayah anyer sana ada spot rahasia yg memungkinkan kita strike baronang.
Hari berganti hari, sy terus mengamati berita mengenai cuaca dan gelombang Laut, tak kalah bung ARH juga mengabarkan bahwa antrian truk di ToL Merak sudah mencapai 5 km…
Rasa penasaran terus bergelora sehingga mampu memupus setiap berita2 yg mematahkan semangat mancing, justru dgn berita2 itu semangat makin menggelora.
Dalam masa2 penantian untuk berlaga, segala peralatan sdh disusun rapi didalam tas, garong berbagai ukuran jg sdh siap, termasuk pesanan bung ARH yaitu garong super mini yg konon kabarnya bisa langsung ditelan baronang.
Entah bayangan darimana ada teori bahwa pancing garong bisa tertelan totaL masuk ke rongga mulut baronang yg kecil imut2 itu… Tetapi biarlah.. Itu hak masing2 untuk menghayalkan, daripada menghayal tentang Negeri ini.
Memang asyik membayangkan momen2 strike.. Sambil sesekali mengenang juga saat strike ikan tenggiri saat trolling bersama rekan RFC lain yg tdk tertarik utk mancing Baronang.

Kenangan tak terlupakan :
Teringat masa-masa lalu saat baru belajar mancing baronang, melalui ancol saya menuju ke pulau kelapa bersama satu rekan sesama pemula… Lah bisa dibayangkan, dgn pengetahuan yg sangat minim itu kami memberanikan diri pergi jauh kepulau untuk mencoba peruntungan mancing baronang, dgn berbekal lumut yg kami petik dari muara angke kami coba pasang di penjepit garong, lalu cemplung dgn panjang senar kira2 sj, tak lama kemudian pelampung yg posisinya diangkat diatas permukaan air mulai menunjukkan gejala “on” ya.. bergetar!!
Maka tak ayal saya menyentak joran dan melengkunglah joran saya menahan berontakan baronang, tetapi hanya berselang tdk beberapa lama, ternyata hanya seekor baronang susu (lingkis) seukuran 4 jari org dewasa.. Nah sejak saat itulah sy mulai keranjingan, hingga sekarang.
Tidak seperti halnya beberapa tahun kemudian tatkala saya semakin mahir memancing baronang dgn terus mencoba cara2 lain termasuk variasi umpan… Saya diperkenalkan oleh seorg pemancing kawakan yg mengatakan bahwa di pelabuhan cigading-banten ikan “Jalu”nya seukuran 12 jari…
Wah ini tantangan tentunya, maka tawaran utk gabung saat itu tdk disia2kan, dgn berbekal nasi lumat yg dimasak sendiri saya mencoba meniru panjang senar dan memperhatikan goyangan pelampung gantung tersebut.
Ternyata senggolan Jalu sangat lembut dibandingkan Baronang walaupun acapkali terjadi tarikan mendadak lalu berhenti. Satu keanehan yg terjadi yaitu jika umpan nasi lumat yg dibentuk spt kelereng dimana didalamnya ada pancing garongnya itu “lecet” sedikit, maka jgn harap ikan berikutnya akan “nutul” lagi.. Nah dalam posisi demikian segera ganti dg umpan baru, memang repot saat itu untuk bolak balik mengganti umpan.
Saat hening tidak berlangsung lama kala pelampung saya posisi “on” sangat lembut dgn gejala2 goyangan yg tdk wajar, maka dg tdk membuang kesempatan joran disentak, terasa spt nyangkut batu, tetapi beberapa detik kemudian joran menukik tajam, sambil menahan joran sy berfikir apakah perlu ditarik terus keatas ataukah di turunkan jorannya ataukan ditahan hingga ikan mengendur perlawanannya..dag dig dug rasanya.
Pilihan saya adalah yg terakhir, benar juga setelah joran bolak balik menekuk hingga hampir 10x barulah perlawanan ikan mengendur, nah saat itulah joran sy angkat perlahan … Ikan mulai terlihat … Ow.. Besar..!! Teriak rekan kanan kiri saya.. Mereka berusaha menolong dgn mencoba meraih senar saya, tetapi saya melarangnya, walaupun senar cukup panjang, sy mencoba berdiri dan mengayunkan joran hingga ikanpun mengayun keatas dan menggelepar dilantai. Berhasil..!!! Kebanggaan luar biasa terpancar diwajah. Apalagi saya berhasil mengalahkan pemancing kawakan kanan kiri yg hanya memperoleh 1 ekor.
Mengapa sy melarang rekan meraih senar saat strike? Ya karena jika ikan menggantung ditangan dan ikan meronta maka sangat boleh jadi garong terlepas dari mulut ikan, krn tdk ada peredaman senar, sedangkan jika menggunakan joran ikan akan mentul2 (spt shock breaker) dan kekuatan tancapan dimulut ikan tetap kuat.
Inilah momen yg membuat saya benar2 ketagihan hingga saat ini, pengalaman itu juga saya tuliskan di Majalah Mancing Indonesia (thn 2002) …

Selang beberapa hari penantian menjelang turun laga, rekan2 yg telah lebih dahulu mancing mengabarkan bahwa di lokasi nun-disana (spot dirahasiakan) sedang panen baronang batik dan tompel, sembari mengirimkan beberapa foto hsl perolehan mereka, hal ini membuat minat semakin menggeliat, segala bayangan strike seolah datang begitu saja memenuhi otak, dan tanpa disadari tangan siap menggentak joran sembari membayangkan nikmatnya melihat pelampung gantung yg bergetar “on” seolah2 pelampung itu “bernyawa” yg bisa menghipnotis pemancingnya.

Dua kali “nyambangi” anyer dan DAM MERAK menghasilkan kekecewaan yang luar biasa, tak terkecuali rekan Forsino yg lain, betapa tidak, penghuni laut (Dam penahan ombak) serta pinggir laut merak masih dihuni baronang seukuran kwaci, begitu pula di anyer. Yg seukuran diatas telapak tangan kalah cepat dengan balita mereka dalam merebut umpan yg diturunkan, ini harus disiasati
Memang mancing baronang sangat berbeda, banyak faktor yang harus dipenuhi dahulu, barulah ikan yg benar2 lapar dan besar menyambar umpan.
Biasanya jika lumut kurang diminati sang baronang, maka segera di ganti dg umpan nasi lumat, tetapi hal ini sdh dilakukan berkali2 tetap saja nihiL.
Berbagai siasat telah dilakukan tetapi rupanya ada faktor alam lain yg masih belum bersahabat sehingga kali inipun belum berhasil menaklukkan “baronang pujaan hati”
Apakah “NihiL” ini menyurutkan niat mancing berikutnya? Sama sekali tidak, justru kondisi2 ini memberi pelajaran kita untuk pada akhirnya mengetahui irama alam yg membawa kita kepada titik keberhasilan.

Pelabuhan Ratu
Salah satu “siasat” adalah dgn mencari garis pantai yg tidak menyatu dgn merak-anyer yg saat ini berpenghuni baronang unyiL.
Sasaran kali ini adalah Pelabuhan Ratu.
Pelabuhan ratu sangat terkenal sebagai pusat pelelangan ikan (sejak Sekolah dasar telah di ajarkan).
Nah sasaran disini terkenal dihuni oleh berbagai jenis ikan, sasaran sy bukan ikan2 pelagis lainnya tetapi “All-out Baronang” karena bagaimanapun saya msh harus tetap mengenal irama alam agar diwaktu2 akan datang selalu menghasilkan yg terbaik.
Malam tgL 21 Mei 2012 hari senin dini hari, 3 rekan telah siap menunggu kedatangan saya untuk bersama2 menuju pelabuhan ratu, jam menunjukkan pukuL 01.00 dinihari kendaraan melaju perlahan menuju tol arah bogor, sepanjang jalan kami membicarakan pengalaman masing2 serta teknik2 terbaru.
Perdebatan tentang jenis2 lumut yg paling diminati baronangpun menjadi topik pembicaraan kami saat itu, sengaja sy melemparkan topik lumut yg sebenarnya sedang mempelajari lumut apa saja yg cocok di wilayah mana, maklum karena rekan tsb juga pengalaman mancing baronang diberbagai wilayah dari ceritranya tentunya sy dapat mengumpulkan informasi bahwa di daerah tertentu baronang lbh doyan jenis Lumut “A” daripada jenis “B” dst tanpa harus saya kesana untuk membuktikannya..
Pembicaraan kurang meriah karena dua rekan dari kami yg berempat ini adalah pemula yg ingin mancing ikan dgn teknik lempar.
Deru mesin avanza terus menggema didalam ruang mobil yg membuat dua rekan lain tertidur pulas, suara mesin rupanya berinterferensi dgn suara dengkur salah seorang penumpang sehingga suara mesin seolah2 menjadi keras-normal-keras-normal-keras, mengikuti irama dengkuran, ah tapi itu semua sangat menghibur dan memacu utk segera sampai di pelabuhan ratu.

Dua jam telah berlalu, belum juga tiba di p ratu… Dua rekan tadi rupanya lebih fokus mancing ikan cucut (kacang2/cendro) mereka menceritakan teknik2 mancing cendro, ow.. Rupanya menarik juga. Ikan cucut bentuknya panjang dg mulut yg lancip panjang juga, ikan ini konon sangat nikmat bila di masak kuning.
Berkawan dengan banyak rekan sesama pemancing tentunya menambah wawasan.
Tiga jam telah berlalu, tibalah kami di Pelabuhan Ratu, tdk spt yg dibayangkan, kondisinya sangat tdk memenuhi syarat sebagai tempat pemasaran ikan, sangat jorok, bau yg sangat menyengat dan panas.
Rupanya aparat berwenang tdk menyadari akan “nama harum” pelabuhan ini dan tdk merawat dg baik.
Tidak ada seorangpun bangsa asing terlihat di lokasi ini, mungkin lantaran jorok dan tdk terawat.

Kembali ke Mancing:
Setiba menunaikan sholat subuh di musholla setempat, kami mencari sarapan. Hal ini mutlak karena tubuh yg lelah berkendara sejak pukul 01.00 memerlukan gizi untuk segera bertempur mencari baronang.
Setelah segalanya rampung, maka kesempatan utk memancing dicuaca “terang-tanah” itu tdk kami sia2kan.
Mulai sy dan satu rekan lain melihat sana sini, cemplung sana cemplung sini, pindah sana pindah sini loncat dari bebatuan yg satu ke yg lain, ya.. Karena pinggir laut pelabuhan ratu ditopang oleh gundukan batu2 besar.
Hingga pukul 07.00 pagi belum juga tampak gejala pancing bergetar pertanda umpan mulai disantap ikan, sementara dua rekan yg rupanya spesialis mancing ikan cendro tetap duduk/berdiri diatas batu tanpa aktifitas apa apa, rupanya mereka mencari cari rombongan cendro yg tak tampak.
Setelah cuaca benar2 terang dan terlihat jelas air lautnya … “Sangat Bening” dan tenang dgn ombak yg sangat lembut… Dalam hati bergumam, wah kondisi laut spt ini bakalan “alamat boncoss” lagi dah.
Sambil “dukun” alias duduk dgn tekun, tak berapa lama pelampung bergetar halus… “Tumben” dalam hati… Kesempatan “gentak” gaya realino pun tak sy sia2kan, yap – kena..!! Tetapi sayang saudara, hanya ikan baronang ukuran 3 jari org dewasa…
“Siasat” kali ini dikalahkan oleh ritme alam yg mengatakan bahwa “musim” kali ini masih terus didominasi oleh baronang unyiL alias bronciL.
Tak terima dgn keadaan ini sy segera pindah mencari spot lain diseputaran itu, yaitu di dermaga barat yg lebih dalam.
Dan yg dijumpai lebih gawat lagi, baronang makan dg sangat ganasnya dan umpan di gadang beramai2 oleh baronang seukuran 1 jari.. Sentak sana sentak sini, bagai mancing ikan teri… Bahh. Kondisi ini terus berlangsung berjam jam, membuat hati kecut, akhirnya pindah lagi ketempat semula, hasilnya tetap 3 jari spt tadi, pindah sana pindah sini, rata 3 jari…
Cuaca semakin panas, jam menunjukkan pukul 11.00 siang, waktu utk beristirahat sambil berbaring di teras lantai didekat situ bagai “gembel” kalah perang, dan tak terasa sayapun tertidur pulas, ahh luar biasa nikmat tidur kali ini.
Saat terbangun jam menunjukkan pukul 13.00 ah.. Panas terik, membuat enggan utk melanjutkan tempur kembali apalagi terbayang bronciL tadi… Istirahat dilanjutkan….
Sekitar pukul 15.00 saat matahari mulai condong kebarat mengurangi panasnya, hasrat utk segera mancing timbuL kembali, kali ini harus berhasil… Maka dg semangat 45 segera nangkring diatas tumpukan bebatuan besar. Tak ayaL segera cemplung umpan lumut andalan yg diambil dari pantai Kamal jakarta.
Lama menunggu tak ada sentuhan berarti pertanda ikan mulai makan umpan, semangat 45 mulai berubah menjadi semangat 66, dalam hati bergumam, wah ini bakalan menjadi semangat 2012… Tetapi tak lama kemudian pagutan halus umpan mulai terasa ditangan..gentak…!!!! Berbarengan antara perintah dalam hati dan gerakan tangan, benar juga… Joran mengayun lembut hampir tanpa beban… BronciL menggelepar lagi.. Terus dan teruuss begitu….(BronciL melulu)
Kesimpulan akhir, musim ini memang benarlah “baronang” masih kecil2, baik sepanjang pantai anyer-merak-cilegon bahkan hingga pelabuhan ratu…
Untuk kenang2an dari pelabuhan ratu, sy membawa 8 ekor ukuran sekitar 3 jari, lumayan utk sekedar lauk pauk malam hari.
Dari kegiatan ini sangat dalam makna yg diperoleh dari aktifitas mancing ini, disamping sdh lebih mengenal karakteristik alam serta irama kemunculan “baronang”.
Badan terasa lelah namun kepuasan tetap terpancar dari jiwa yg terus mencari dan meng eksplorasi dunia perpancingan khususnya “baronang” ini
Untuk selanjutnya dapat dipraktekkan kedepannya, ya… Memang mancing baronang bukan perkara mudah, banyak siasat dan persyaratan yg hrs dipenuhi dahulu, barulah panen dapat terwujud…
Demikianlah semoga membawa kepuasan bagi para pembacanya.
Salam Gentak..!!!
Freddy H
Kleyeng-79

Discussion

One thought on “Mancing Baronang di Anyer – Pelabuhan Ratu

  1. uampuh tjakkkkkkkkkkkkkkk

    Posted by wasis | April 7, 2014, 12:50 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: