//
you're reading...
Panduan

Faktor-faktor Kegagalan Mancing Cara Trolling

Tidak dapat dipungkiri bahwa kegagalan mancing acapkali terjadi lantaran kekurangfahaman dalam menyikapi persiapan matang serta pengetahuan mendalam baik mengenai set peralatan yang digunakan maupun kondisi/tindakan yang serampangan yang dilakukan oleh pemancing itu sendiri.

Pengalaman yang tidak sesuai kondisi pun tidak menjamin memperoleh strike bertubi tubi. Pengalaman mendapat ikan-ikan kecil tidak dapat diandalkan untuk mendapatkan ikan-ikan besar, demikian pula sebaliknya. Apalagi nurani berkata .. “Ah, ini hanya faktor kebetulan saja”.

Nah untuk menambah wawasan memperkecil kegagalan, berikut saya ulas beberapa faktor sbb :

1. Kail yang tidak diasah

Kail yang tajam (sangat tajam) mutlak diperlukan (khususnya untuk trolling). Tahukah saudara bahwa kail yang dibeli di toko-toko pancing itu adalah kail paling tumpul (kecuali jenis chemical sharpener)? Untuk itu, jika ingin mancing menggunakan umpan seret (rapala) ada baiknya kail treble diasah dengan menggunakan kikir setajam mungkin. Hal ini dimaksudkan agar sentakan ikan saat umpan tiruan sedang action akan langsung menancap di mulut ikan tanpa kita menyentaknya. Penulis pernah mengalami kegagalan saat troll di karang dangkal Pulau Panaitan akibat mata pancing yang “lupa” diasah.

(Artikel berikutnya akan diulas jenis-jenis mata kail yang sesuai untuk jenis-jenis mancing tertentu)

2. Kenur/Senar yang sudah usang (berusia lama)

Sekalipun saat mancing, senar cadangan tidak pernah dipakai namun kenur tetap menjadi usang oleh sengatan sinar matahari dan basuhan air laut ataupun uap garam, apalagi jika sudah beberapa kali sudah digunakan mengajar ikan disamping itu jika kenur tersebut termasuk kelas IGFA (international Game Fishing Association) dijamin kekuatan yang tercantum di label senarnya lebih rendah (kondisi baru).

Beberapa rekan sering melakukan hal yang dianggapnya lumrah, yaitu dengan membalikkan gulungan (senar yang di luar menjadi di dalam).

Ini sangat menjamin kekecewaan yang lebih parah, lantaran saat senar terulkur panjang maka senar yang di dalam (yang usang) menjadi titik tumpuan beban. Akibatnya bisa dibayangkan ikan terlepas dengan membawa potongan panjang senar anda.

Lebih bijaksana untuk memotong senar di bagian luar yang tampak usang, inipun hanya bisa dilakukan 2 hingga 3 kali mancing, untuk selanjutnya ganti dengan senar baru.

3. Jumlah Kenur Terbatas

Jangan sayang untuk menyiapkan senar dalam penggulung dengan cukup memadai apalagi dalam kondisi trolling dengan sasaran ikan Marlin. Menempatkan senar dalam penggulung juga tidak bisa terisi hingga full, mengapa demikian?

Tahukan anda, bahwa kerapatan susunan senar di penggulung tergantung tarikan beban? Jika kita menggulung senar tanpa beban, maka senar tersusun dengan tingkat kerapatan rendah. Akibatnya, senar yang tadinya cukup menjadi berlebih dan gulungan senar akan tampak gembung.
Kondisi ini sangat berbahaya, boleh jadi saat mengulur senar, beberapa lingkaran senar sekaligus keluar dan nyangkut di penggulung, apalagi sembari diputar. Bisa dibayangkan jika senar macet padahal kita dengan strike ikan besar.

4. Formasi Umpan (pola penebaran)

Khususnya penggemar trolling, penebaran formasi umpan mutlak diperlukan. Efisiensi waktu akan maksimal jika dilakukan dengan formasi tepat. Senar pun tidak saling membelit satu dengan lainnya saat kapal membelok atau terkena ombak samping.

Gunakan Formasi “V” atau “W” bila memakai 3 atau 5 umpan, dan gunakan Formasi “Z” untuk 4 umpan (untuk jelasnya silahkan kontak saya).

Persentase sambaran akan maksimal bila umpan ditempatkan di lereng muka gelombang yang ditimbulkan oleh baling2 kapal. Sedangkan umpan yang berenang di bawah permukaan harus ditempatkan di posisi tertentu hingga membentuk formasi diinginkan.

Ikutilah petunjuk pemancing yang telah berpengalaman, jangan mengulur umpan sekehendak hati, karena bukan saja boncoss tetapi juga mengganggu pemancing trolling di samping anda.

5. Pemilihan Umpan yang ngawur (tidak berdasar)

Penggunaan rapala lebih diutamakan jika kapal troll melewati karang dangkal. Konahead hanya efektif jika kapal melewati tubiran karena sangat besar kemungkinan disambar ikan MARLIN idaman para Sport Fisherman. Artinya penggunaan rapala di laut dalam atau konahead di laut dangkal akan sia-sia.

(Bahasan mengenai pengaruh warna dan aroma umpan tiruan akan dibahas di artikel yang akan datang).

6. Trolling Ngawur (membabi buta)

Istilah membabi buta mungkin berlebihan, tetapi trolling di lokasi yang salah memang akan memboroskan waktu, tenaga dan uang serta membosankan. Jika kapten kapal memberikan isayarat bahwa di situ lokasi Tenggiri dan Kuwe, maka gunakanlah rapala, dan jika isayaratnya Marlin (tubiran dalam) maka gunakanlah “konahead”. Adapun formasi trolling harus memenuhi ketentuan di atas (V, W atau Z).

7. Trolling dengan satu mesin (dengan tujuan menghemat bahan bakar)

Alasan ini sama sekali tidak masuk akal. Tujuan trolling adalah untuk memperoleh ikan dari sambaran dengan kecepatan tertentu (20 knot), jangan dikira dengan memperlambat kecepatan kapal akan terjadi strike terus-terusan, malah justru pemancing akan bosan dan mengantuk sembari menantikan derikan reel yang sangat menawan… “Sia2 saja”

Kemungkinan ikan terlepas juga sangat besar lantaran “full gas” mutlak diperlukan saat strike ikan besar (marlin). Gunanya full gas ini agar mata kail menancap sempurna, setelah itu barulah kapal memperlambat lajunya sembari memainkan drag dan gulung reel (gunakan reel jenis troll, bukan jenis spinning).

8. Kapten kapal mematikan mesin saat terjadi sambaran.

Tanpa alasan jelas mesin kapal justru sering dimatikan saat terjadi sambaran. Seharusnya agar kail dapat mengait dengan sempurna justru kapal harus di “gas penuh” untuk selanjutnya mesin harus terus posisi hidup dengan kecepatan sedang hingga pelan (kurang lebih 5 hingga 10 knot) tujuannya agar kapal dapat bermanuver untuk membantu memudahkan pemancing mengatasi perlawanan ikan.

Jangan salah saudara, bahwa mesin harus selalu hidup walaupun tiba saat ikan diganco, karena sangat mungkin ikan berontak dan masuk menyeberang kolong kapal. Nah, dalam posisi hidup dan berjalan, gerakan ikan seperti ini dapat diatasi.

9. Tidak Siap

Banyak pemancing yang merencanakan acara mancing dengan mendadak (misalnya dari kantor langsung menuju pemberangkatan kapal) seperti ini pasti banyak “lupa” nya, banyak set yang tidak terbawa.

Ketidaksiapan lain adalah tidak memasang gimbal (dudukan joran) di pinggang, Ini tampaknya sederhana saudara, tetapi fatal akibatnya dimana saat ikan strike kita tidak dapat menggulung karena dudukan tidak ada, sehingga menyebabkan kita panik, terlambat untuk segera memasang gimbal sementara ikan terus meronta-ronta.

“Ngelamun” juga sama akibatnya.

Jadi apapun itu yang penting waspada dan konsentrasi penuh jika diyakini yang sedang dilalui dihuni oleh ikan-ikan target, tentunya seluruh set sudah terpasang dengann sempurna.

10. Kapal mengejar ikan (harap diberitahukan kepada kapten kapal)

Kapal berbalik arah ataupun mundur mengejar ikan yang memakan umpan memang membuat jarak antara pemancing dan ikan semakin dekat, tetapi ini sangat tidak dianjurkan karena saat berbalik dan senar dalam keadaan kendur, ikan dapat seketika melesat dengann kecepatan tinggi berlawanan arah dan sangat membahayakan si pemancing, bahkan dapat merusak “drag” dari reel yang kita gunakan..untuk itu usahakan senar selalu dalam keadaan regang lurus dengan ikan.

11. Tidak Konsisten (in-konsistensi)

Trolling berjam jam mencari ikan buruan (Marlin) namun tidak kunjung berhasil memang membuat keinginan untuk segera mendengan suara indah dari Reel kesayangan yang berderit sulit ditahan.
Namun karena setiap saat bisa saja terjadi sambaran Marlin, keputusan mampir trolling sebentar di karang dangkal untuk sekedar mendengar reel berbunyi telah mengurangi peluang mendapat ikan.
Terlebih berhasil atau tidak, trolling di karang dangkal juga tidak mungkin dilakukan hanya 1 atau 2 jam. Padahal selalu ada kemungkinan justru pada saat itulah seharusnya kesempatan mendapat Marlin itu datang.

Camkankah : keberhasilan mendapat target (Marlin) hanyalah soal waktu jika yakin bahwa di situ memang dihuni oleh ikan tsb. Konsistensi perlu terus dijaga.

Nah, untuk memaksimalkan keberhasilan kita, yang perlu dilakukan adalah :

  1. Asah kail setajam mungkin,
  2. Gunakan Formasi penempatan umpan yang terbukti ampuh,
  3. Gunakan variasi umpan yang berherak di permukaan (rapala) dan yang bergerak di bawah permukaan (konahead),
  4. Gunakan umpan dengan gaya berenang dan warna sesuai cuaca dan warna air,
  5. Pemancing harus selalu siap antisipasi untuk setiap sambaran ikan,
  6. Pemancing harus siap menggulung kenur sehingga umpan seolah-olah hendak melarikan diri apabila ikan target (Marlin) hanya berenang mengikuti umpan, atau segera mengulur kenur sehingga umpan langsung masuk ke mulut ikan yang sedang “menganga” ketika ikan berkali-kali gagal menyambar umpan,
  7. Tekan “Gas” full seketika berbarengan saat strike terutama bila menggunakan jenis umpan “kona head” atau cumi-cumi tiruan,
  8. Pemancing harus tetap siap dengan jorannya sekalipun “leader man” sudah mengganco ikan tersebut, karena boleh jadi ikan meloloskan diri dan kabur… Drag/rem harus disetel tidak dalam posisi “dead drag”, ini perlu untuk mengatasi kaburnya ikan,
  9. Waspadalah terhadap risiko bahaya umpan dengann kail treble super tajamnya yang bisa saja terpental akibat upaya brutal sang ikan untuk melepaskan diri, walaupun ikan sudah diganco dan sudah di atas geladak kapal…

Demikian sekilas ulasan, semoga bermanfaat

Salam
Fred – Si Pemancing Kelana

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: